Galau? Sumpek? Gelisah? Berobat yuk :)

0

Pernah gak, merasa suuntuk, sumpek, sebel, jengkel, galau, gelisah?

 

QS Al Ma’aarij Ayat 19:

 

إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

 

Artinya:

Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.

 

Iyaa, di Al Quran Alloh udah bersabda kalo manusia tu emang sifatnya suka mengeluh, ya.. manusia adalah makhluk gelisah.

 

Trus.. apa dong obatnya:

 

1. Sholat

Yup… sebagian obat galau itu bernama Sholat

 

 

QS Al Ma’aarij Ayat 22

 

إِلا الْمُصَلِّي

 

Artinya:

Kecuali orang-orang yang melaksanakan shalatnya

 

QS Al Ma’aarij Ayat 23

 

الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ

 

Artinya:

mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya

 

QS Al-Hajj Ayat 77

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, ruku´lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

 

Rumus untuk hidup bahagia:

(Ternyata gak cuma matematika aja lho yang ada rumusnya 🙂 )

 

Rukuk & Sujud + Kerjakan yang baik-baik = Sukses & Bahagia

 

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, dari Salim bin Abil Ja’d dari seorang laki laki dari kabilah Aslam,  disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda agar Bilal memberitahukan kepada Rasulullah dan sahabat jika waktu sholat telah tiba,

Sabda Rasulullah :

 

“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat!”

 

Jadi intinya di sini, Sholat itu untuk mengistirahatkan yang sumpek, yang capek, maka… sholatlah yang lama dan satai 🙂 🙂 🙂

 

gambar supir taxi di New York, dia sholat di atas taxi nya

gambar supir taxi di New York, dia sholat di atas taxi nya

 

Sesibuk apapun kita, tetap harus Sholat.

 

Alloh berfirman, dalam QS Maryam ayat 59:

 

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

 

Artinya:

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,.

 

Disurat itu diceritakan bahwa akan muncul suatu generasi yang menyia-nyiakan sholatnya (tidak sholat), dan menuruti hawa syahwat, maka dia akan tersesat.

 

Jadi kita bisa membuat rumus seperti ini:

 

Tidak sholat + Syahwat = Tersesat.

 

Lalu, mungkin ada yang bertanya…

“Sudah sholat, tapi kenapa ya kok masih gampang gelisah(sumpek, apalagi galau)?”

 

Jawabannya udah ada kok di al Quran.

Yuk, kita buka Al Quran kita, ada di QS Al Ma’arij ayat 34:

 

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

 

Artinya:

Dan orang yang menjaga shotanya.

 

Jadi… Sholat aja itu nggak cukup, tapi sholat itu harus dijaga.

nah, lalu bagaimana ya, menjaga sholat itu?

a. tepat waktu

b. gerakan sholat sesuai dengan petunjuk Nabi

c. bacaan sholat sesuai dengan petunjuk Nabi

d. adab sholat (khusyu’)

e. menjaga wudhu (sesuai dengan petunjuk Nabi)

 

Jadi kalau sholat itu, rukuk yang lama.. sujud juga yang lama..

Kalao biasanya baca bacaan rukuk dan sujud itu cuma tiga kali, coba deh, jadi 25 kali gt. (soalnya, 3 kali itu itungan minimal, kalo bisa ditambahin kan lebih bagus).

 

2. Kerja Profesional dengan Menjaga janji dan Amanah

 

QS Al Ma’arij ayat 32

 

وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

 

Artinya:

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

 

Bekerjalah dengan profesional!

Tidak peduli itu digaji atau tidak!

Jangan melihat gajinya!

tapi kerjakan!

Gaji akan datang sendiri!

 

QS Al Jatsiyah ayat 15

 

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

 

Artinya:

Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.

 

dari ayat tersebut, bisa kita petik hikmah….

 

Barang siapa yang bekerja dengan baik, maka akan kembali ke dirinya sendiri.

Dan barang siapa juga yang kerjanya asal-asalan, maka akan kembali ke dirinya sendiri juga..

 

Balasan itu dari Alloh,

melalui siapa? Terserah Alloh!

 

Percaya deh, rumus yang ada di Al Quran itu PASTI ! Pasti berhasil..

 

 

QS Fushilat ayat 46

 

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ

 

Artinya:

Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).

 

Lalu…

Mungkin kadang muncul ya, pertanyaan di benak seperti ini..

“Bagaimana donk, kalau orang yang berbuat tidak baik, kok malah dia itu hidupnya tampak menyenangkan, sukses, bahagia? katanya tadi orang yang berbuat baik akan mendapat balasan yang baik, dan yang berbuat buruk, juga akan mendapat balasan yang buruk, tapi kok kenyataan yang ada di sekitar kok malah sebaliknya gitu?”

 

Jawabannya….

 

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

 

Artinya:

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.

 

iiyaa…jadi,

gak usah deh kita mengira kalau Alloh lupa terhadap orang-orang yang berbuat dholim, Alloh inget kok.

hanya saja, alloh masih mengundur.. sampai tiba suatu hari yang pas, sehingga pada hari tersebut nanti akan ada banyak mata yang terbelalak melihat.

 

Hadits Qudsi:

 

“Wahai pemuda, bekerjalah kamu karena alloh dengan syukur dan senang, dalam bingkai keyakinan.”

 

Hikmahnya:

Semua kerja yang karena Alloh itu pasti digaji oleh Alloh

 

Jadi…

Semangat yaa

Alloh memerintahkan kita untuk bekerja, bekerja sebaik mungkin

Menjaga amanah sebaik mungkin

ya..

walaupun kalau dilihat secara mata biasa gitu, kita kerja gak digaji, atau digaji tapi sedikit, merasa kurang..

tapi Alloh cuma memerintahkan kita untuk mengerjakannya

dengan sebaik mungkin!

masalah gaji, nanti alloh yang akan menggaji

walaupun bukan melalui bos kita, bisa jadi melalui orang lain

karena itu adalah hak Alloh, terserah alloh mau menggaji kita melalui siapa.

 

Rasanya itu kan, kalau kita mengerjakan sesuatu sebaik mungkin kan, di dalam diri kita timbul perasaan puas ya?

seperti itulah rasanya mengapa disini dikatakan bahwa salah satu obat galau adalah bekerja secara profesional dengan menjaga amanah dan janji.

 

Mungkin kita pernah merasakan, gimana rasanya saat nggu, gak ada yang dikerjakan, gak enak banget kan? Beda rasanya ketika kita ada sesuatu yang dikerjakan.

 

dan kebalikannya adalah…

Hal yang membuat sumpek itu, ketika kita mau menerima amanah tapi kita tak mengerjakannya, nah itu sump[ek sekali kan pas rasanya.

Mungkin kalau mau mencoba, coba deh terima banyak amanah, trus gak usah dikerjakan semua, gimana coba rasanya 🙂 Sumbepk pasti ya? gak tenang!

 

3. Al Quran Obat Sumpek tanpa Efek Samping

 

Itulah mengapa kita harus membaca Al Quran.

 

Al Quran itu, dzikir yang luar biasa.

 

Setan berusaha menguasai hati kita, maka kita harus berdzikir, dan dzikir yang terbaik adalah al Quran.

 

Ada 3 syarat biar enak membaca al Quran, biar gak berat :

a. kuantitas = iya membaca al Quran itu harus banyak…

b. kualitas = ngaji sambil benar-benar dihayati (misalnya kalau ada satu ayat yang menarik atau menyentuh gitu, bisa itu dibaca berulang kali, sambil dihayati)

c. intensitas = betapa seringnya kita membacanya.

 

Tapi kadang ya, kalau gak terbiasa gitu, baca Al Quran itu rasanya kok beraaaat banget, baru dapat berapa ayat, udah gak karuan rasanya.

Beda ma kalau lagi baca novel misalnya, setebel apa gitu, rasanya enjoy aja.

 

Nah, gimna tuh kalau gitu?

 

Jawabannya:

Terusin aja baca Al Qurannya, gak boleh nyerah, gak boleh berhenti!

 

Misalnya gini…

 

Kalau misalnya ya di tubuh kita itu ada luka, lalu luka tersebut diobati.

Apa yang terjadi?

Sakit, perih!

iya, seperti itu rasanya..

Tapi apa yang kita lakukan, kita tetap berobat kan? dan kalau kita sabar luka itu akan sembuh.

 

Sama seperti itu tadi rasa berat membaca al Quran tadi..

Berat itu karena ada yang luka di hati kit, karena penyakit hati, cuma bedanya kalau penyakit hati itu gak kelihatan, kalau luka tadi kan kelihatan.

 

Na, obatnya penyakit hati adalah Al Quran.

 

Jadi kalau baca al Quran rasanya berat,

jangan menyerah

jangan berhenti

Tetep aja terus baca

Tar lama-lama juga akan terbiasa Inshaa Alloh

 

Itu karena proses, luka, penyakit di hati kita, sedang diobati dengan membaca al Quran.

 

Penyakit hati itu, disebabkan oleh maksiat.

Adab dan Doa Sebelum Tidur

0

Alhamdulillah,sebagai seorang muslim Alloh sangat menyayangi kita. Buktinya, tidur tidak sekedar tidur namun ada petunjuknya, ada SOP nya.

Alhamdulillah 🙂

 

1. Menutup pintu, Memadamkan api, dan Meutup bejana

 

Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Padamkanlah lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana makanan dan minuman.

(HR Bukhori-Muslim).

 

Dari hadits tersebut bisa diambil hikmah, sebelum tidur kita diperintahkan untuk memadamkan lampu, pun api.

Jadi sebelum tidur, ngecek dulu, di dapur, kompornya udah mati belum, biar gak terjadi apa -apa nantinya.

Ini salah satu bentuk ikhtiar yang dapat kita lakukan.

Juga, kita diperintahkan untuk menutup pintu, menguncinya, untuk menghindarkan sesuatu yang tidak diinginkan masuk, ketika kita sedang tidur (baik binatang buas ataupun seseorang tak diundang, misalnya maling).

Bejana-bejana makanan dan minuman, juga tempat penampungan air, harus ditutup. Jadi misalnya kita punya air yang ditampung di suatu wadah, kita harus menutupnya, walaupun kita menutupnya hanya sekedar menggunakan kayu yang melintang.

 

2.Wudhu

 

Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Al Baro’ bin ‘Azib bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu

(HR. Bukhari dan Muslim).

 

Sehingga dia kalau tidur dia dalam posisi suci.

 

3. Membersihakan Tempat Tidur

 

Iya, jadi sebelum tidur kita harus menebas tempat tidur kita, dengan mengibaskan kain, kan kita tidak tahu di tempat tidur tersebut ada apa, siapa tahu ada semut atau apa gitu, kan kita tidak tahu, jadi haru di bersihkan dulu yaa sebelum tidur 🙂

 

Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya…”.

Di dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa jumlah kibasan yang dianjurkan adalah sebanyak tiga kali

(HR. Bukhari dan Muslim).

 

Selain itu, dengan mengibas-ngibaskan kain, kita juga harus sambil menyebut nama Alloh…

Bismillah…

 

Tujuannya juga, untuk menguris jin yang siapa tahu ada di situ, agar dia tidak mengganggu tidur kita nantinya.

 

 

4. Berbaring miring dengan posisi bagian kanan di bawah, dan menghadap ke arah kiblat

 

Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Al Baro’ bin ‘Azib bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu

(HR. Bukhari dan Muslim).

 

Tidur dengan miring, dimana bagian tubuh sebelah kiri ada di bawah bagian tubuh sebelah kanan, dan kita tidurnya menghadap ke arah kiblat (inilah posis tidur terbaik).

 

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).

 

Trus, gimana dong, kalau pas tidur kan kita gak sadar, posisi kita bisa berubah-ubah..

Tenang….

Adapun ketika telah terlelap tidak mengapa jika posisi badan berubah 🙂

Nahitu juga salah satu faedah sebelum tidur kita diperintah untuk menutup pintu rapat-rapat, kan karena waktu tidur kita posisinya bisa berubah-ubah, kalau pintunya sudah ditutup kan, lebih baik tuh 🙂

 

5. Membaca beberapa surat atau ayat Al Quran

 

Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas, ‘Aisyah radhiyallahu‘anha berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari)

 

Ayat Kursi, hal ini berdasarkan hadits yang diriwiyatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (HR. Bukhari).

 

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

 

Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqoroh,berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam Barangsiapa membaca dua ayat tersebut pada malam hari, maka dua ayat tersebut telah mencukupkan-nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

 

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 

 

Surat Al Kafirun, berdasarkan sebuah hadits yang mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengajarkan sahabat Naufal untuk membaca surat Al Kafirun sebelum tidur (HR Abu Dawud, Ahmad, dan At Tirmidzi).

 

Surat Al Mulk dan As Sajdah, hal ini berdasarkan penjelasan sahabat Jabir bin Abdillah, beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tidur sampai beliau membaca alif lam mim tanzilus sajdah (surat As Sajdah) dan Tabarokalladzi biyadihil mulk (surat Al Mulk)” (HR Bukhari).

 

 

 

QS Al Mulk ayat 1-30:

 

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

 

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَّا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِن تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِن فُطُورٍ

 

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِأً وَهُوَ حَسِيرٌ

 

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِّلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

 

 

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

 

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ

 

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

 

 

قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

 

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

 

 

فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ

 

 

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

 

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

 

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

 

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

 

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

 

أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

 

وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

 

 

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَنُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ

 

 

أَمَّنْ هَذَا الَّذِي هُوَ جُندٌ لَّكُمْ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ الرَّحْمَنِ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ

 

أَمَّنْ هَذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ بَل لَّجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

 

أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

 

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

 

 

قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

 

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

 

 

قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ

 

فَلَمَّا رَأَوْهُ زُلْفَةً سِيئَتْ وُجُوهُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَقِيلَ هَذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تَدَّعُونَ

 

 

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَهْلَكَنِيَ اللَّهُ وَمَن مَّعِيَ أَوْ رَحِمَنَا فَمَن يُجِيرُ الْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

 

قُلْ هُوَ الرَّحْمَنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

 

 

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَن يَأْتِيكُم بِمَاء مَّعِينٍ

 

 

 

Qs As-Sajdah ayat 1-30:

 

الٓمّٓ

 

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۚ بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

 

للَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

 

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

 

ذَٰلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

 

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ

 

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

 

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

 

وَقَالُوا أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۚ بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ

 

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

 

وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

 

وَلَوْ شِئْنَا لآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِي

 

فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ

 

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

 

فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يَسْتَوُونَ

 

أَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نُزُلا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

 

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الأدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

 

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَلا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

 

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

 

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

 

أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ أَفَلا يَسْمَعُونَ

 

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الأرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنْفُسُهُمْ أَفَلا يُبْصِرُونَ

 

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْفَتْحُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

 

قُلْ يَوْمَ الْفَتْحِ لا يَنْفَعُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِيمَانُهُمْ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ

 

فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَانْتَظِرْ إِنَّهُمْ مُنْتَظِرُونَ

 

 

 

6. Membaca beberapa dzikir dan doa

 

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

 

“Bismikallahumma amuut wa ahyaa” (HR Bukhari)

 

“Allahumma qiini ‘adzabaka yauma tab’atsu i’badak” (HR Abu Dawud)

 

“Bismikarabbii wa dho’tu jambii wa bika arfa’uhu in amsakta nafsii farhamhaa wa in arsaltahaa fahfazhhaa bimaa tahfazha bihi ‘ibaadakasshaalihiin.” (HR Bukhori dan Muslim)

 

 

Membaca Dzikir Pelepas Lelah:

Dzikir itu adalah membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali, sehingga genap 100.

Tasbih :  سُبْحَانَ اللهِ

Tahmid : الْحَمْدُ للهِ

Takbir : اللهُ أَكْبَرُ

 

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Fatimah pernah mengadukan tangannya yang lecet karena sering memutar gilingan. Ketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru memililki seorang budak. Fatimahpun datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (berharap diberi budak sebagai pembantu), namun beliau tidak ada dan hanya menemui Aisyah. Fatimah menyampaikan keluhannya kepada Aisyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Aisyah memberitahu tentang kedatangan Fatimah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Malam harinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami (Ali dan Fatimah). Sementara kami sudah di tempat tidur. Kamipun beranjak berdiri, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelahi: “Tetap di tempat.” Beliaupun duduk diantara kami, sampai aku bisa merasakan dinginnya kaki beliau sampai ke dadaku. Beliau bersabda:

ألا أعلمكما خيرا مما سألتما، إذا أخذتما مضاجعكما، أن تكبرا الله أربعا وثلاثين، وتسبحاه ثلاثا وثلاثين، وتحمداه ثلاثا وثلاثين، فهو خير لكما من خادم

Akan aku ajari kalian, sesuatu yang lebih baik dari pada yang kalian minta. Jika kalian hendak tidur, bacalah takbir [ALLAHU AKBAR] 34 kali, tasbih [SUBHANALLAH] 33 kali, dan tahmid [ALHAMDULILLAH] 33 kali. itu lebih baik bagi kalian dari pada seorang pembantu.” (HR. Bukhari 3113 dan Muslim 2727)

 

Semenjak mendengar petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, Ali tak pernah lalai meninggalkan wirid tadi. Ia selalu membacanya, bahkan di malam perang Shiffin (HR. Bukhari keterangan hadis no. 5362)

 

 

 

Agar Diwafatkan di Atas Fitrah:

Sebelum tidur Anda berwudhu, ketika sudah berbaring, baca:

 

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

 

Artinya:

Ya Allah, aku pasrahkan jiwaku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, akku sAndarkan diriku kepada-Mu, karena mengahrapkan pahala-Mu dan takut adzab-Mu, tiada tempat bersAndar dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.

 

Keutamaan:

Siapa yang membaca doa ini sebelum tidur, kemudian malam harinya dia meninggal, maka dia mati di atas fitrah (islam). Dan jika bangun di pagi hari, maka dia mendapat pahala.

Hadis Selengkapnya:

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada beliau:

 

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ، وَقُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، ….، فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ “

 

Jika kamu hendak tidur, berwudhulah seperti wudhu ketika shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan dan ucapkan: Allahumma aslamtu nafsii ilaika…dst. Jika kamu meninggal maka kamu mati dia atas fitrah, dan jika bangun pagi maka kamu mendapatkan pahala. Jadikanlah bacaan ini yang terakhir kamu ucapkan.”

(HR. Bukhari 6311 dan Muslim 2710)

 

Yang dimaksud mati di atas fitrah adalah mati di atas islam.

 

Semoga bermanfaat

Tabung Kebaikan dengan Sembunyikan Musibah dan Sakit

0

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مِنْ كُنُوْزِ الْبِرِّ كِتْمَانُ الْمَصَائِبِ وَ الْأَمْرَاضِ وَ الصَّدَقَةِ – أبو نعيم

Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda,”Termasuk dari simpanan-simpanan kebaikan, menyembunyikan musibah-musibah, sesakitan serta sedekah”. (Riwayat Abu Nu’aim, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Al Allamah Al Munawi menyebutkan bahwa ketiga hal di atas ketika disebut sebagai simpanan, maka hanya Allah yang mengetahui sedangkan malaikat pun tidak mengetahuinya. Dan amalan itu tidak diberikan kepada pihak lain yang menuntutnya di akhirat kelak, namun diberikan dari amalan lainnya.

Al Munawi juga menyebutkan bahwa menampakkan musibah bisa mencederai kesabaran sedangkan menyembunyikannya merupakan puncak kesabaran.

Dalam hal ini, kisah para ulama terdahulu bisa dijadikan pelajaran. Dimana suatu saat Al Ahnaf mengadu kepada paman beliau mengenai rasa sakit yang belaiu rasakan dan sang paman pun menyampaikan,”Aku buta selama 40 tahun dan aku tidak mengadu kepada siapapun.” (lihat, Faidh Al Qadir, 6/17)

http://www.hidayatullah.com/kajian/lentera-hidup/read/2014/02/24/17057/tabung-kebaikan-dengan-sembunyikan-musibah-dan-sakit.html

Cerpen senjadi suatu sore

0

Kepikiran tentang cerpen, dan novel yang selama ini ingin kutulis, namun tak ada ide sama sekali…

Hingga….

Aku menikah dengannya, pria berkaca mata, yang dua tahun yang lalu aku duduk berhadapan dengannya, di sore hari di sebuha perpustakaan di kota itu.

Dia mengeluarkan sebuha buku dari ranselnya yang hitam, “Ini..”

Aku mengambilnya, dan membuka-buka isinya.

Suasana sore selalu menenangkan, pun sore itu, pkl 16.15.

Serombongan cewek, datang menghampiri kami, dan menyodorkan laptopnya di meja kami.

“Kak.. mohon dukungannya, untuk voting DCD sebagai gril band di ajang kompetisi tahun ini.”

(iih, apa-apaan sih?) batinku dalam hati.

Sementara seseorang yang duduk manis depan ku hanya diam, bingung, waktu seolah berhenti sejenak, hampir dia akan memvoting.

“Ini kak, dukungannya lewat FB, silahkan login di laptop ini, untuk memberikan dukungannya kak 🙂 “

“Oh, nanti saja ya mbk!”

jawabku (aku pun tak dasar dari mana ucapanku itu bisa keluar, pun bisa setegas itu, aku tak pernah sebelumnya, hingga mereka terdiam) “Di sini ada kan? Jadi tak harus sekarang ini juga kan, untuk memberikan dukungannya?” Jawabku, ramah, dan tegas ke mereka.

Mereka tak menjawab, mereka mundur perlahan, meninggalkan kami, seolah ada kecewa, ataukan kesal lebih tepatnya, mendapatkan jawaban diplomatis itu dariku.

🙂

“Wah, good..good.. penolakan halus yang tepa sasaran”

“Tidak seperti itu mas. Dukungan adalah dukungan, bukan paksaan.” Jawabku.

Angin sore masih berhembus, itu adalah saat perpisahan, aku merasakannya.

Dia pamit, dia mungkin akan sangat sibuk nanti, urusan rumah sakit akan membuat nya begitu sibuk nanti.

“Oya, saya minta maaf”

“Untuk apa mas? 🙂 “

“Ya, kalau selama ini aku bicara selau lihat sana.. kemudian lihat ke sana…”

(aku yang bego atau entah apa) “Lihat kemana memangnya mas? kesana mana? ad apa di sana?”aku menoleh ke belakang, ke kiri dan kanan.

“Bukan, Jadi, selama ini aku berbicara tidak melihat mu, begitu maksudku.”

“Oh, iyaa…” Jawabku, yang memang tahu akan hal itu, tapi aku tetap selalu menatapnya jika berbicara padanya. Pun kali ini, aku menatapnya, kulihat giginya yang tak rapi berjajar, sehingga membuahnya agak sedikit maju tak beraturan.

……………………………………………..

Musim telah berlalu, waktu terus berputar.

Ternyata kami memang memiliki perbedaan.

“Mas,.”

“Ya..”

“Kalau anak kita ini nanti lahir, pokoknya aku tak mau dia mendapat vaksin!”

“Hmm”

Dia membaca korannya, aku tak puas dengan jawabannya.

“Mas, pokoknya kalau anakku ini nanti lahir aku tak mau dia divaksin!”.

………………

Dia suamiku, pria berkacamata yang pernah kutemui di sore dulu.

Dia masih tetap setia dengan kacamatanya.

Entah ini sudah berapa kali aku mengatakan kepadanya kalau aku tak mau vaksin, dan entah sudah berapa kali dia menjawab argumenku, dengan jawaban yang tidak mampu membuatku mengurungkan niatku.

……………………….

Hingga perut ini semakin membesar.

“Mas, sepertinya aku akan segera melahirkan”

“Iya”

“mAS, AKU TAK MAU ANAK KITA NANTI DIVAKSIN, AKU TAK RELA.”

“Sudahlah, kapan kau akan berhenti mengatakan itu?”

“Sampai kau menyetujuinya mas!”

“bukankah aku sudah bilang iya?”

“belum mas, belum, kau tak pernah sepenuh hati mengatakan iya, aku mau jika iya hanya dimulu.”

“kau tak percaya pada ucapan ku”

“tiadak mas, tidak seperti itu, aku hanya membutuhkan persetujuanmu, keridhoanmu.”

“Baiklah, Bismillah, iya”

“Terimakasih mas”

…………………………………………………………..

Anak kami telah lahir, aku masih ingat tentang sore itu, sore ketika dia belum lahir.

Perdebatan itu.

“|Vaksin itu tidak bahaya sayang, semua itu hanya kampanye orang-orang yang anti vaksin yang mengatakannya.”

“tidak mas, aku tetap tidak bisa menerima itu.”

“Ya sudahlah kalau begitu”

Iya, dia memang pasrah, selalu, dan tak pernah berdebat.

“Tapi mas,”

“Iya, apa lagi?”

“Kalau bilang iya, tapi hatimu tidak, aku tahu itu”

“hmm”

………………………………….

Anak kami telah lahir, dan dia tidak diberi vaksin.

Bidan, tetangga, dan keluarga membujuk kami untuk memberi vaksin.

“Ibu macam apa itu? Bagaiman kalau nanti anaknya terkena polio?”

“Astaghfirullah” batinku dalam hati, berlali pulang segera sampai rumah..

“Tadi ibu-ibu itu mengatakan kalau aku ini ibu yang tak sayang anak, mereka bilang anak kita akan terkena polio karena tak diberi vaksin dan imunisasi..” tangisku

“Tidak, anak kita akan sehat 🙂 “

“Aku sedih”

“Bukankah dulu kau begitu yakin?”

“Tapi kalau dia terkena polio bagaimana? Kau pasti juga kan marah padaku?”

……………………………….

Waktu seperti biasa, dia masih saja terus berjalan.

kenyataan itu terwujud, anak kami meninggal.

“Mas, maafkan aku”

“Untuk apa?”

“”Hiksss”

“Sudahlah”

“Polio itu benar-benar datang”

“Tapi bukan vaksin penyebabnya istriku sayang.”

“Sudahlah, bukankah kau juga tahu, penyakit itu datangnya dari Allah? Ini ujian untuk kita, apakah kita masih teguh dalam beriman kepadaNya? Bertawakal kepadaNya? Ataukah malah kita malah jadi percaya pada vaksin?”

“Mas” aku tersadarkan dengan ucapannya itu.

………………………….

“Ma, anak kita yang akan lahir ini, tidak usah divaksin tidak usah diimunisasi” bisik lebut suamiku di senja itu, senja bulan desember, ketika perutku semakin membesar. Aku begitu mencintainya.

…………………………

Alhamdulillah, anak kami sehat-sehat semua

Mereka tumbuh dewasa tanpa vaksin dan tanpa imunisasi.

🙂

Vaksin

4

Vaksin…

Saya orang awam, yang tak banyak tahu apapun, sungguh hanya Allah yang Maha luas ilmunya.

Sedari kecil, orang tua sudah mengirimkan saya untuk belajar.

Tapi kini, seolah banyak dari hal-hal yang saya pelajari seolah itu merupakan suatu pertentangan…

Seperti ketika TK, kita diajari menyebut hari, yang jumlah nya ada 7.

Dan penyimpangan ini baru kuketahui kini, seharusnya kita menyebut hari dengan kata Ahad saja.

Sedari kecil, saya mendapat doktrin tentang KB, dua anak cukup, imunisasi, vaksin, dll.

Pernah inget, waktu SD dulu, kami berbaris untuk menunggu giliran disuntik cacar.

Sakit memang, banyak teman-teman yang menangis, dan memilih bolos, tidak masuk sekolah.

Kalau, saya.. saya patuh.

Begitu yang diajarkan di sekolah, guru adalah sumber ilmu, dan itu baik, itu yang saya pahami di sekolah.

Saya semangat, disuntik waktu itu…

Dan kini, saya baru, sedikit tahu…

tentang bahay vaksin, tentang bahan-bahannya, dan tentang proyek kapitalis di dalamnya.

Dan juga, Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan seperti itu…

Dan gilanya lagi..

Seseorang yang mau berangakt ibadah haji jg harus divaksin terlebih dahulu, dan syarat nikah juga.. harus vaksin TT.

Apa-apaan ini?

Ya Allah kami butuh pemerintah yang memegang teguh ajaranMu…

Aamiin

 

acaan :

http://blog.student.uny.ac.id/animoonz/2013/01/20/bahaya-vaksin-bagi-manusia/

Sedih “ngajar di hari Ahad itu”

1

Aku cukup sedih, karena kemarin..

Ceritanya begini, aku kan dimintai tolong untuk mengajar anak SD, 2 orang.

Adek, kaka, satu rumah.

Ngajar di hari Ahad, karena tentor aslinya tidak bisa,tentor lain tidak bisa mengganti, dan saya bisa.

Awalnya pas mau berangkat itu berattttt sekali, jauh, panas, agak gak enak badan juga, tapi aku udah terlanjur sepakat mau.

Aku pun berangkat….

Sesuai dengan judul, tapi sedihnya bukan karena harus ngajar di hari itu…

Tapi karena…

Ku disuruh ngajar Bhasa jawa dan Agama, karena mereka besok mau ulangan.

Dan ternyata gama yang harus tak ajar adalah Katolik…

Duhh 😥

………………………

Flahsback, kemarin, aku kan tanya dulu, di rumahnya ada anjing tidak?

“oh, tidak mbk.. orangnya mualaf kok”

…………………………

dan di rumahnya, kulihat di dinding ada kaligrafi arab juga, lagunya juga lagu islami yang ku dengar….

di dinding jg ada tempelan kartun islami,.

………………………………….

tapi kok anaknya belajar agama katolik?

…………………………………….

😥

…………………………

Pulang, aku sms, sedikit mengadu…

“mas aku tadi ngajar bahasa jawa dan agama, agama katolik (-_-)”

………………….

Yah, aku tak mendapatkan tanggapan yang kuharapkan

……………………………….

Tapi mbknya tadi gak kesulitankan?

“aku td bacain soal ulangan mereka yg udah ada jawabnnya mas, dan mereka menjawab”

“pake sistem mencongak berarti mbak ya? siip”

……………………………………………………………

aku gak suka

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

aku butuh hak perlindungan tentor

yah, tapi ini yang kudapat

……………………………………..

ini sebuah ironi di dalam hati

…………………………………………………..

Yah,, secara maetri yang dipelajari kemaren, yang kubaca soal-soalnya juga…

Anak Thn, dll…

Astaghfirullah

Aku merasa sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat berdosa.

Jika menjagar adalah amal jariyah

jika pahalanya terus mengalir

jika mendidik adalah ibadah

apabila jika itu adalah anak kecil

Ya Allah ku kembalikan semua pada Mu saja

aku sedih

😥

😦